Lompat ke isi utama
Pelatihan Industri Perkayuan Difabel di Balai Diklat Industri Jogja

Pada saat Kick Off Diklat 3 in 1 yang dibuka oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa hanya BDI Yogyakartalah dari 6 Balai Diklat Industri di Indonesia yang mempunyai program Diklat 3 in 1 untuk penyandang Disabilitas. Demikian di tegaskan oleh Tevi Kurniawati selaku Kepala Balai Diklat Industri Yogyakarta, saat membuka Diklat 3 in 1 di BDI Yogyakarta pada 24 Maret 2021.

Program Diklat 3 in 1 untuk penyandang Disabilitas tidak terlepas dari perjalanan Menteri Perindustrian yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Sosial sebelumnya, dimana awairness pada para difabel sangat tinggi sehingga ketika membuka beliau menyatakan dalam pembangunan SDM Industri harus menyertakan praktek inklusivitas dan tidak boleh mendiskriminasi karena keterbatasan.

Hampir 10 % jumlah penduduk Indonesia adalah disabilitas. Untuk itu akses kepada industri perlu dibantu untuk dibukakan apalagi ada Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagerkerjaan bahwa tidak ada diskriminasi dalam pekerjaan. “sekitar 15 dari 100 orang di dunia menyandang disabilitas, sementara menurut data Kementrian Sosial jumlah penyandang disabilitas sebanyak 205.360 orang”, tandas Anggoro Radmadiputra, Ketua DPP ASMINDO.

Untuk hal itu di tahun 2021 ASMINDO menyelengarakan diklat-diklat perkayuan yang melibatkan para penyandang disabilitas. Pertamanya adalaha di bulan Maret ini ASMINDO bekerjasama dengan perusahaan Disabilitas bernama Difanesia.Id menyelenggarakan Diklat operator Finishing yang diikuti oleh 15 Peserta Tuna Rungu dan Tuli, 10 Tuna Daksa dan 10 tuna grahita ringan dan sedang yang diseleksi dan dikumpulkan dari jaringan Difanesia.ID.

Sementara itu pendiri Difanesia.id KH Imam Aziz yang juga Staf Khusus Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin bidang Penggulangan Kemiskinan menyatakan bahwa kegiatan seperti ini harus dicontoh oleh industry-industri lainnya, sehingga akses difabel ke Industri sama dengan lainnya, karena hakikatnya kemiskinan itu adalah ketiadaan akses ekonomi, politik dan pengetahuan.

DPP ASMINDO, BDI YOGYAKARTA DAN DIFANESIA.ID
MEMFASILITASI AKSES DIFABEL DALAM INDUSTRI PERKAYUAN

Balai Diklat Industri Yogyakarta, 24-31 Maret 2021

Asosiasi Pengusaha Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) melalui program “DIKLAT 3 IN 1 Untuk Operator Finihing Perkayuan” membuka akses terhadap para difabel mengikuti program nasional ini, bekerja sama dengan Kementerian Perindustria RI, tepatnya Balai Diklat Industri Yogyakarta. Menurut Anggoro Radmadiputra, Ketua DPP ASMINDO, mengatakan “sekitar 15 dari 100 orang di dunia menyandang disabilitas, sementara menurut data Kementrian Sosial jumlah penyandang disabilitas sebanyak 205.360 orang”. Artinya hampir 10 % jumlah penduduk Indonesia adalah disabilitas. Untuk itu akses kepada industri perlu dibantu untuk dibukakan apalagi ada Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagerkerjaan bahwa tidak ada diskriminasi dalam pekerjaan.

Untuk itu ASMINDO tahun 2021 ini menyelengarakan diklat-diklat perkayuan yang melibatkan para penyandang disabilitas. Bulan Maret ini bekerjasama dengan perusahaan Disabilitas bernama Difanesia.Id menyelenggarakan Diklat operator Finishing yang diikuti oleh 15 Peserta Tuna Rungu dan Tuli, 10 Tuna Daksa dan 10 tuna grahita ringan dan sedang. Untuk para peserta diseleksi dan dikumpulkan dari jaringan Difanesia.ID.

Di seluruh DI Yogyakarta. Untuk lebih terkonsentrasinya para peserta disediakan akomodasi selama pelatihan dari tanggal 24-31 Maret 2021. Para peserta itu mendapatkan keterampilan finishing kayu yang didapat dari para pelatih yang sudah mumpuni dari industry finishing kayu dan industry perkayuan. Instruktur dari para difabel ini juga adalah seorang difabel tuna daksa, bernama Sukamto, selain sebagai Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Sleman beliau juga pengusaha kerajinan dan mebelair. Sukamto pendidikan tehnik perkayuan lulus dari Pendidikan Ilmu Kayu Atas (PIKA) Semarang.

Selain mendapatkan pelatihan dari para ahlinya, mereka juga akan diuji kompetensi setelah mendapatkan pelatihan itu. Sertifikasi dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Mebel Kriya Indonesia yang sudah berlisensi dari Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP).

Uniknya salah satu asesor dari LSP ini adalah juga seorang penyandang Difabel bernama Salim, yang juga Direktur Difanesia. Id. Tevi Kurniawati selaku Kepala Balai Diklat Industri Yogyakarta menyatakan bahwa dalam kick off Diklat 3 in 1 yang dibuka oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa hanya BDI Yogyakartalah dari 6 Balai Diklat Industri di Indonesia yang mempunyai program Diklat 3 in 1 untuk penyandang Disabilitas, hal itu tidak terlepas dari Menteri Perindustrian yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Sosial sebelumnya, dimana awairness pada para difabel sangat tinggi sehingga ketika membuka beliau menyatakan dalam pembangunan SDM Industri harus menyertakan praktek inklusivitas dan tidak boleh mendiskriminasi karena keterbatasan.

Sementara itu KH Imam Aziz selaku pendiri Difanesia,id dan juga selaku Staf Khusus Wakil Presiden RI bidang Penggulangan Kemiskinan menyatakan bahwa kegiatan seperti ini harus dicontoh oleh industry-industri lainnya, sehingga akses difabel ke Industri sama dengan lainnya, karena hakikatnya kemiskinan itu adalah ketiadaan akses ekonomi, politik dan pengetahuan.

Pelatihan Industri Perkayuan Difabel di Balai Diklat Industri Jogja
x

Please add some content in Animated Sidebar block region. For more information please refer to this tutorial page:

Add content in animated sidebar