Skip to main content
x
Sign bahasa isyarat DIfabel Indonesia

Mengapa Gerak Inklusi?

Hingga saat ini, belum ada sumber informasi yang mampu menjelaskan bagaimana organisasi difabel berjejaring serta melakukan advokasi bersama. Upaya advokasi bersama, baik disengaja maupun tidak, sebenarnya telah terus terjadi. Mulai dari advokasi lahirnya Undang-Undang 4 1997 tentang penyandang cacat, ratifikasi CRPD, hingga lahirnya UU 8 2016 merupakan buah dari kerja kolektif yang terjadi baik secara sengaja maupun secara tidak disadari. Namun, sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada dokumentasi yang menjelaskan dan bahkan menjembatani proses jejaring tersebut.

Gerakan advokasi bersama atas turunan Undang-Undang No. 8 2016 telah membangun kebersamaan kolektif beberapa leading DPOs untuk menggerakkan advokasi bersama. Hal ini merupakan momentum yang perlu dijembatani dengan platform jejaring yang akan mampu mewadahi kerja bersama dalam advokaksi RPP dan berbagai isu inklusi difabel lainnya. Platform tersebut, juga harus mampu mengakomodasi kebutuhan akan keterlibatan (baik secara langsung maupun secara offline) dari kelompok advokat inklusi difabilitas yang lebih luas.

Merespon kebutuhan tersebut, muncullah gagasan untuk membangun sebuah platform yang akan menjadi sarana untuk menyimpan, membagikan, serta menggalang input dan dukungan atas advokasi bersama DPO di Indonesia. Sebagai inisiator, SIGAB akan mengawali membangun, mengembangkan dan melakukan pengelolaan operasional dari website ini. Namun demikian, kepemilikan website ini adalah diperuntukkan bagi jaringan DPo dan masyarakat sipil di Indonesia yang mempunyai tujuan bersama untuk memperjuangkan inklusi difabel di Indonesia.

Tujuan Website Gerak Inklusi:

  1. Tersusunnya ruang pendokumentasian dan informasi bagi aktifitas jejaring difabel dalam melakukan advokasi inklusi difabel di Indonesia.
  2. Terbangunnya wadah interaksi yang dapat menjadi penghubung berbagai komponen advokasi

Perkiraan Audience Web Gerak Inklusi

1.     Organisasi difabel dan individu aktifis difabilitas.

2.     Peneliti, akademisi, mahasiswa yang mempunyai ketertarikan pada isu advokasi kebijakan terkait inklusi difabel.

3.     Kelompok non-difabel, khalayak luas yang mmepunyai kepentingan terhadap advokasi inklusi difabilitas.

4.     Pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang menangani isu difabilitas.

5.     Organisasi mitra pembangunan, donor, serta mitra DPO dan CSO.

6.     Organisasi pembangunan serta donor yang mempunyai kepentingan untuk mencari prospectus partners.