Lompat ke isi utama
Virus Corona

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/1/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) pada tanggal 5 Oktober 2020. Surat Edaran tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan RT-PCR ini ditandatangani oleh Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp. THT-KL (K), MARS di Jakarta.

RT-PCR atau Real Time Polymerase Chain Reaction atau sering disebut quantitative polymerase chain reaction (qPCR), merupakan suatu metode biologi molekuler berbasis reaksi rantai polimerase. Metode RT-PCR ini mendeteksi amplifikasi gen target selama proses PCR berlangsung, tidak di akhir reaksi, seperti pada PCR konvensional. qPCR menggunakan fluoresens, dimana peningkatan sinyal fluoresens menunjukkan terjadinya amplifikasi gen target selama proses PCR.

yuk dirumah saja

Surat Edaran Nomor HK.02.02/1/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Daerah Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten/Kota, Kepala/Direktur Utama/Direktur Rumah Sakit, Pimpinan Laboratorium Klinik, Ketua Pehimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Ketua Ikatan Laboratorium Klinik Indonesia (ILKI) di seluruh Indonesia.

Tentu saja sebagai warga negara Indonesia yang berkepentingan besar di masa Pandemi COVID-19 ini juga perlu mengetahui isi tentang Surat Edaran tentang berapakah harga tertinggi yang dibolehkan oleh negara ini dalam melayani permintaan masyarakat tentang tes RT - PCR. Surat Edaran Nomor HK.02.02/1/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) isinya adalah pokoknya sebagai berikut:

SURAT EDARAN NOMOR HK.02.02/1/3713 /2020
TENTANG
BATASAN TARIF TERTINGGI PEMERIKSAAN
REAL TIME POLYMERASE CHAIN REACTION (RT-PCR)

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan coronavirus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Gejala-gejala yang dialami oleh pasien COVID-19 bervariasi, dari mulai tidak menunjukkan gejala apapun dan tetap merasa sehat, gejala ringan, sampai dengan gejala yang berat seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multi-organ, termasuk gagal ginjal atau gagal jantung akut hingga berakibat kematian. Untuk itu perlu pemeriksaan yang tepat untuk mendiagnosis adanya COVID-19.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), menjelaskan bahwa untuk menegakkan diagnosis pasien yang terduga terinfeksi COVID- 19 dibutuhkan pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan metode deteksi molekuler/NAAT (Nucleic Acid Amplification Test) seperti pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR bagi semua pasien yang terduga terinfeksi COVID-19 ini juga sejalan dengan rekomendasi dari WHO.

Pemeriksaan RT-PCR yang dilakukan oleh rumah sakit atau laboratorium saat ini memiliki tarif yang bervariasi, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi seluruh pihak terkait dalam pelayanan pemeriksaan RT-PCR. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah perlu menetapkan standar tarif pemeriksaan RT-PCR dengan mempertimbangkan komponen jasa pelayanan, komponen bahan habis pakai dan reagen, komponen biaya administrasi, dan komponen lainnya.

Mengingat ketentuan:

  1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3237):

  2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723):

  3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063):

  4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072):

  5. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6236):

  6. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 3447),

  7. Keputusan Presiden Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19);

  8. Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai Bencana Nasional:

  9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19):

Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini disampaikan bahwa dalam pelayanan pemeriksaan RT-PCR oleh fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR termasuk pengambilan swab adalah Rp. 900.000,- (Sembilan Ratus Ribu Rupiah).

  2. Batasan tarif tertinggi sebagaimana dimaksud pada angka 1 berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan RT-PCR atas permintaan sendiri/mandiri.

  3. Batasan tarif tertinggi sebagaimana dimaksud pada angka 1 tidak berlaku untuk kegiatan penelusuran kontak (contact tracing) atau rujukan kasus COVID-19 ke rumah sakit yang penyelenggaraannya mendapatkan bantuan pemeriksaan RT-PCR dari pemerintah atau merupakan bagian dari penjaminan pembiayaan pasien COVID-19.

  4. Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pemberlakuan pelaksanaan batas tarif tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR sesuai dengan kewenangan masing-masing dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  5. Evaluasi terhadap batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR secara periodik akan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Demikianlah isi Surat Edaran Nomor HK.02.02/1/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Protokol Kesehatan

Cara Kerja Real-Time PCR untuk COVID-19

Cara Kerja Real-Time PCR didasarkan pada deteksi fluoresensi yang diproduksi oleh molekul reporter yang meningkat sejalan dengan berlangsungnya proses PCR. Hal ini terjadi karena akumulasi produk PCR pada tiap siklus amplifikasi. Molekul reporter dengan fluoresensi meliputi pewarna yang berikatan pada double-stranded DNA atau menggunakan probe spesifik sekuens/sequence specific probes.

Virus corona diketahui memiliki materi genetik berupa RNA (Ribose Nucleotide Acid) atau dikenal sebagai ssRNA(+) [3]. Sebagian virus lainnya memiliki materi genetik yang sama dengan mikroorganisme lain seperti bakteri atau jamur, yaitu DNA (Deoxyribose Nucleotide Acid). Secara struktur, DNA terdiri dari dua untai dengan urutan nukleotida (A-C-T-G) yang saling berkomplemen, sedangkan RNA hanya terdiri dari satu untai saja. Prinsip dasar dari RT-PCR adalah menyalin informasi pada RNA virus dan memperbanyaknya ke dalam jutaan kopi. Perbanyakan material genetik virus dilakukan secara dua tahap reaksi PCR (Polymerase Chain Reaction) dimana pada kedua tahapan tersebut memerlukan material berikut:

  1. DNA/RNA template sebagai target yang akan disalin kode genetiknya.

  2. DNA primer yaitu fragmen DNA kecil yang terdiri dari 15-20 nukleotida sebagai titik awal inisiasi reaksi perpanjangan rantai. Primer akan menempel secara spesifik pada bagian nukleotida dari template yang urutannya komplemen dengan urutan primer tersebut. Primer dirancang berdasarkan informasi urutan DNA target yang dapat diperoleh dari database Bank Data Gen (Gene Bank) yang dapat diakses secara online. Jika DNA target berasal dari mikroorganisme yang belum diketahui urutannya, maka data yang dapat digunakan untuk perancangan primer adalah data urutan DNA mikroorganisme yang paling dekat kekerabatannya. Dalam hal novel coronavirus Sars-CoV-2 penyebab COVID-19, kita dapat menggunakan urutan DNA coronavirus SARS-2003 atau MERS.

  3. dNTP yaitu nukleotida sebagai sumber monomer rantai DNA.

  4. Reverse-transkriptase untuk reaksi transkripsi balik RNA menjadi DNA dan DNA polimerase untuk melakukan reaksi perpanjangan rantai sehingga untai DNA utuh dapat terbentuk.

hindari berbagi barang

Instrumen Real-Time PCR bekerja berdasarkan prinsip PCR. Namun berbeda dengan instrument yang konvensional, dengan RT-PCR, kita dapat mengamati tahap penggandaan DNA target secara real-time dari satu PCR ke siklus selanjutnya tanpa perlu melakukan elektroforesis (agarose) untuk melihat hasilnya. RT-PCR (Real-Time Polymerase Chain Reaction) adalah teknik yang digunakan untuk mengendalikan DNA target dari suatu organisme yang bertujuan untuk mengetahui kualitas DNA target. RT-PCR juga dikenal sebagai quantitative PCR (qPCR). Jumlah produk PCR (DNA, cDNA atau RNA) yang relatif sedikit, dapat dihitung secara kuantitatif. Selain itu, instrumen ini juga dapat melihat kualitas DNA secara relative, ekspresi gen (kuantifikasi mRNA), deteksi keberadaan DNA target, menentukan jenis SNP (Single Nucleotide Polymorphism), Menentukan kurva Tm (Melting Curve), dan melakukan screening High Resolution Melting (HRM).

Analisis menggunakan Real time PCR memiliki sensitivitas tinggi dan lebih spesifik untuk produk PCR tertentu. Real Time PCR juga meliputi Real Time-RT PCR dimana PCR dilakukan secara Real Time menggunakan enzim Reverse Transcriptase secara langsung pada waktu bersamaan. Komponen utama Real Time PCR adalah thermal cycler (mesin PCR), optical modul (pendeteksi fluoresensi selama reaksi) dan komputer (membaca dan memindahkan data fluoresensi ke layar monitor, serta dapat disimpan dalam berkas).

Saat menggunakan RT-PCR, tahap reaksi transkripsi balik dan perbanyakan DNA dapat berlangsung dalam satu tabung yang sama ataupun berbeda. Namun, jika template RNA awal yang digunakan belum diketahui secara pasti urutan nukleotidanya, maka DNA templat perlu diperoleh terlebih dahulu sehingga kedua tahap harus dilakukan secara terpisah.

PROTOKOL KESEHATAN COVID-19

JIKA ANDA MERASA TIDAK SEHAT

  1. Jika Anda merasa tidak sehat dengan kriteria:

    1. Demam 38 derajat Celcius, dan

    2. Batuk/pilek

    istirahatlah yang cukup di rumah dan bila perlu minum Bila keluhan berlanjut, atau disertai dengan kesulitan bernafas (sesak atau nafas cepat), segera berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes)

    Pada saat berobat ke fasyankes, Anda harus lakukan tindakan berikut:

    1. Gunakan masker

    2. Apabila tidak memiliki masker, ikuti etika batuk/bersin yang benar dengan cara menutup mulut dan hidung dengan tisu atau punggung lengan

    3. Usahakan tidak menggunakan transportasi massal

di rumah ngapain saja?
  1. Tenaga kesehatan (nakes) di fasyankes akan melakukan screening suspect COVID-19:

    1. Jika memenuhi kriteria suspect COVID-19, maka Anda akan dirujuk ke salah satu rumah sakit (RS) rujukan yang siap untuk penanganan COVID- 19.

    2. Jika tidak memenuhi kriteria suspect COVID-19, maka Anda akan dirawat inap atau rawat jalan tergantung diagnosa dan keputusan dokter fasyankes.

  1. Jika anda memenuhi kriteria Suspect COVID-19 akan diantar ke RSrujukan menggunakan ambulan fasyankes didampingi oleh nakes yang menggunakan alat pelindung diri (APD).

  1. Di RS rujukan, akan dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium dan dirawat di ruang isolasi.

  1. Spesimen akan dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Jakarta. Hasil pemeriksaan pertama akan keluar dalam 24 jam setelah spesimen diterima.

    1. Jika hasilnya positif,

      1. maka Anda akan dinyatakan sebagai penderita COVID-19.

      2. Sampel akan diambil setiap hari

      3. Anda akan dikeluarkan dari ruang isolasi jika pemeriksaan sampel 2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif

    2. Jika hasilnya negatif,Anda akan dirawat sesuai dengan penyebab penyakit.

JIKA ANDA SEHAT, namun:

  1. Ada riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke negara terjangkit COVID-19, ATAU

  2. Merasa pernah kontak dengan penderita COVID-19,

hubungi Hotline Center Corona untuk mendapat petunjuk lebih lanjut di nomor berikut: 119 ext 9.

Jika merasa tidak sehat
RS Rujukan
Nakes
hotline COVID
social distancing
not a joke
x

Please add some content in Animated Sidebar block region. For more information please refer to this tutorial page:

Add content in animated sidebar